Gelar Rapimwil, PWPM DIY Terus Berkontribusi di Masa Pandemi

0
83

Sleman – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) DIY menggelar rapat pimpinan wilayah (Rapimwil) pertama, Ahad (20/6/2021) di Kopi Jongke Sleman. Mengusung tema ‘Memaksimalkan peran pemuda di masa pandemi bermanfaat untuk ummat dan bangsa, kegiatan digelar secara hibrid diikuti pimpinan harian secara offline dan anggota bidang secara online.

Sekretaris PWPM DIY, Dian Korprianing Nugroho dalam sambutannya menyampaikan perlunya untuk tetap produktif meski di masa pandemi dengan mencari alternatif kegiatan-kegiatan yang tidak melanggar protokol kesehatan pencegahan Covid-19. “Meskipun masa pandemi, kita harus tetap produktif dengan mencari kegiatan alternative,” ungkap Dian.

 

Iwan Setiawan mewakili PP Pemuda Muhammadiyah mememberikan apresiasi pelaksanaan Rapimwil tersebut. Sedangkan Bupati Sleman, Kustini mengungkapkan Rapimwil menjadi momentum yang tepat untuk  turut berpartisipasi menyelesaikan permasalahan masyarakat. Ia pun mengajak agar Pemuda Muhammadiyah bisa bersinergi dengan pemerintah. “ PWPM harus bertandem dengan pemerintah lokal untuk berkolaborasi dalam persoalan pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain,” ungkap Bupati. Ia menambahkan pemuda dalam sejarah selalu tampil di garis depan untuk melakukan perubahan.

Sedangkan Kompol Wahyu Dwi Nugroho dari Polda DIY meminta agar Pemuda Muhammadiyah menjadi pionir dalam penegakkan protokol kesehatan. “Pemuda Muhammadiyah harus menjadi pionir sosialisasi ketaatan protokol kesehatan. Karena angka DIY yang terus naik, apalagi di akhir pekan,” katanya.

 

Wakik Ketua DPRD DIY , Suharwanta menuturkan saat ini memiliki angka kemiskinan tertinggi di Jawa Bali, bahkan di atas angka rata-rata nasional. “Gini ratio tertinggi di Indonesia bahkan ada di DIY. Untuk itu kami membutuhkan support, dukungan dan gagasan dari Pemuda Muhammadiyah DIY,” ungkap Suharwanta.

 

Sementara Untung Cahyono dari PWM DIY menguraikan saat ini Ormas Islam, termasuk Muhammadiyah kekurangan ulama.  “Banyak ahli manajemen, ahli pendidikan, tapi kekurangan sosok yang punya kompetensi ulama,” tuturnya. Maka ia berharap kader Muhammadiyah yang ideal harus punya kompetensi-kompetensi khusus seperti kepemimpinan, keagamaan, dan kemanusiaan.

 

“Kalau kita tidak punya dasar Quran dan Sunnah yang memadai, bagaimana kita mau melangkah? Kader Muhammadiyah harus punya ilmu alat yang memadai. Ciri orang hebat itu pasti menguasai banyak bahasa. Minimal Arab dan Inggris,” imbuhnya.

 

Untung Cahyono, juga meminta agar Pemuda Muhammadiyah berperan aktif di masjid sekitarnya. “Jangan sampai kita yang bangun, tapi dikelola orang lain,” ungkapnya. [fani/eko]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here